Diary #3 HAGAKI

Utazu, Jepang (pukul 21.07 JST)

13 September 2019, cerah.

Sepenggal cerita dari 24 jam. Semoga ada hikmah yang dapat dipetik bersama.

Hagaki adalah Bahasa Jepang yang dalan Bahasa Indonesia artinya kartu pos.
Hari ini kartu pos yang sangat ditunggu kedantangannya akhir tiba ditanganku setelah banyak drama melankolis, bentrok batin dan salah paham.
Bagi beberapa orang mungkin isi dari kartu pos ini tidaklah begitu penting, namun bagiku cukup penting untuk memacu motivasi 6 bulan kedepan. Kartu pos ini berisi hasil ujian tes kemampuan Bahasa Jepang level N3. Dengan jangka waktu belajar Bahasa Jepang hampir 1,5 tahun sudah wajar untuk mampu mencapai tahap tersebut. Sebenarnya pengumuman kelulusan sudah dapat dilihat di Internet 2 minggu yang lalu namun karena kami didaftarkan oleh fasilitas tempat kerja (Di kantor Indonesia seperti bagian SDM mungkinnya) jadi hanya pihak SDM saja yang tau hasilnya. Sedangkan kami yang ikut ujian, rerpaksa harus menunggu hagaki tiba untuk tau lulus atau tidak. Sebelum hagaki ini tiba telah banyak kabar burung yang beredar yang dimulai dari pengumuman dipapan pengumuman kantor bahwa kami (anak baru) akan didaftarkan lagi untuk ujian berikutnya, sedangkan para senior diizinkan untuk memilih ingin ikut lagi atau tidak. Tes kemampuan Bahasa Jepang ini diadakan 2 kali dalam setahun, yakni dibulan Juli dan Desember. Dikarenakan kemampuan bahasa yang masih pas-pasan dan kalimat dalam pengumuman itu juga sedikit membingungkan terjadilah kesalahpahaman. Kami, si anak baru tidak lulus. Mendapati kesimpang siuran berita akan ketidaklulusan seperti tersengat listrik saat sedang menyisir rambut, terkejut tapi masih mencoba tetap berpikir positif.
Hasil itu tidak akan mengkhianati usaha, bukan?  Saat mendengar kata tidak lulus, seketika itu juga teringat bagaimana aku belajar, memang belum maksimal tapi cukup untuk mencapai nilai minimun. Masih berharap walau hanya pada batas nilai minimum. Ada rasa penolakan yang besar dalam diriku karena saat mengerjakan soal, yang menggerakkan tangan ini untuk mengisi A, B,C atau D itu adalah Sang Maha Penggerak, Yang Maha Besar, Allah SWT. Sehingga ku yakin Allah akan izinkaa aku lulus dengan kemudahan yang Ia berikan.  Namun bila ketidaklulusan menjadi hasil ujian ini, ku teringat sebuah hadist dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,
[Alhamdulillah ala kulli hal] Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan’.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan).
Rosul saja yang cobaannya lebih berat masih memuji Allah lalu siapa aku yang hanya ditimpa ketidaklulusan saja mau marah, robek buku, bakar lalu diminum. Alhamdulillah ala kulli hal.
Isu ketidaklulusan ini ditambah lagi dengan pernyataan dari kepala fasilitas yang memberitahukan lagi perihal pendaftarn ujian dan beliau bilang level yang kami ikuti adalah N3 (lagi). Wah, kali ini bagai tersambar petir di tengah hujan. Sudah basah, kena petir lagi. Seram, naas dan sakit.
Dan akhirnya pasrah. Menanti Hagaki saja agar lebih jelas. Lelah dengan pergolakan batin yang tidak perlu.
Hari ini ia tiba. Kusambut dengan harapan dan berserah pada yang Maha Kuasa. Apapun hasilnya, kuharap dikuatkan untuk bangkit ataupun untuk melangkah maju. Dan Alhamdulillah hirabbil alamin. Lulus dengan skor yang sangat memuaskan.
Allah memang baik dan sesuai prasangka hambanya.
Desember, N2 tunggu aku menemuimu. Salam dari aku yang sudah rindu ingin bertemu. Eahh.
Sekian

Diary #2 TERKEJUT

Utazu, Jepang (pukul 21.43 JST)

12 September 2019, cerah.

Sepenggal cerita dari 24 jam. Semoga ada hikmah yang dapat dipetik bersama.

Terkejut menurutku adalah bahasa lain dari ketidaksiapan kita menerima sesuatu.
Hari ini aku dikejutkan oleh hal-hal kecil yang sebenarnya sudah ada dalam daftar kejadian yang akan terjadi pada kita atas izin sang Pecipta. Masya Allah. Karena tidak ada yang namanya kebetulan. Semuanya terjadi mengikuti rencanaNya. Indah sekali.
Dari pagi, berniat hanya ingin masak tahu goreng untuk bekal dinas malam ini. Saat sedang memasak, pintu kamar yang lain terbuka. Terkejut karena ku kira teman-teman ku masuk shift pagi. Ternyata tidak. Beruntung karena dia belum mempersiapkan bekalnya, maka aku berbagi dengannya. Alhamdulillah masih diberi kesempatan berbagi.
Sekitar pukul 13.00, melalui line, kudapatkan pesan yang memang kutunggu kedatangannya. Terkejut, karena tiba lebih cepat dari perkiraan. Kabar baik, alhamdulillah. Baiknya rencana Allah pada rasa keterkejutan ini.
Sejak 2 minggu yang lalu pemberitahuan bahwa akan ada pengecekan listrik berkala maka akan ada pemadam listrik selama dua dari jam 14.00- 16-00. Pukul 15.00 saat akan bersiap untuk berangkat dinas malam, kuhidupkan lampu kamar mandi untuk cuci muka. Terkejut lagi. Karena lapu masih menyala, saat kuputar keran air. Mati. Hmm.. apakah terjadi pertukaran pengecekan? Masih berharap seperti itu. Hingga tiba didepan elevator. Ternyata tetaplah pengecekan listrik berkala sehingga elevatornya mati dan harus menggunakan tangga. Baiklah. Ku ingat sebuah hadist Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhumma berkata ” Nabi SAW dan seluruh pasukannya apabila mendaki lereng bukit mereka pun bertakbir. Manakala melalui jalan menurun mereka bertasbih (HR. Abu Dawud no. 2599). Masya Allah. Sambil menuruni anak tangga sembari ku ucapkan “Subhanallah” karena aku juga sedang turun dari ketinggian walau bukan bukit.
Lagi. Saat sudah mulai dinas malam. Saat mata mulai lelah, tubuh mulai meminta haknya untuk istirahat. Dari sudut gelap ruangan, ada sesuatu yang bergerak cepat, memperlihatkan wajah pucat. Seketik mata menjadi lebih tajam, nadi berdenyut lebih cepat. Apakah itu? Terkejut. Ternyata dia adalah pasien dengan wajah putih pucatnya yang hendak ke kamar kecil. Sembari menyapa ia bilang “meshi mada ka?” (Sarapan belum datangkan?). Masya Allah. Allah bangun diri ini karena ada tanggung jawab yang harus dijaga malam ini. Baiknya Sang Pencipta.

Sekian.

Seorang perawat lansia yang sedang berjuang di Negeri Matahari Terbit

When you are a nurse, you know that every day you will touch a life, or a life will touch yours – Annonim

Sebagai perawat lansia di Jepang (dan pastinya bagi semua perawat dimanapun berada) bahwa kalimat “life will touch yours” sangat terasa. Bagaimana menjalani kehidupan yang panjang tanpa ada orang terkasih yang menemani. Menjalani masa senja dengan berteman pada mereka yang sama-sama sudah senja. Semoga mereka mendapat hidayah, sehingga masa tunggunya dapat lebih bermakna.

Blog ini Insha Allah akan menceritakan pengalaman di Negeri Sakura, mulai dari pekerjaan, kehidupan sehai-hari dan tentunya liburannya.

Semoga bisa bermanfaat dan dapat meningkatkan minat baca anak Negeri tercinta.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai