Utazu, Jepang (pukul 22.08 JST)
14 September 2019, cerah.
Sepenggal cerita dari 24 jam. Semoga ada hikmah yang dapat dipetik bersama.
Hari libur yang melelahkan. Bukan karena aku pergi liburan ketempat yang jauh tapi karena hanya dirumah menghabiskan hari ditempat tidur dan gadget. Ya, melelahkan.
Bersyukur siang melelahkan itu berganti dengan malam penuh manfaat.Alhamdulillah malam ini bisa bersilaturahmi dengan saudari-saudari sholehah walau hanya via suara (seperti sebuah lirik lagu hmm). Malam ini banyak sekali ilmu yang didapat. Mulai dari pembicaraan serius hingga ke pembahasan kegiatan sehari-hari. Mulai dari olahraga hingga ke olahhati.
Bercerita tentang ma’rifatullah atau mentaarufi Allah menjadi topik malam ini. Taaruf berasal dari Bahasa Arab yang artinya saling mengenal atau berkenalan. Sepertinya akan ada banyak pikiran yang akan bercabang kalau mendengar kata taaruf. Taaruf identik dengan sebuah proses menuju pernikahan, begitu, iya kan?
Iya itu juga betul. Namun alangkah indahnya sebelum mentaarufi makhluk kita mentaarufi Sang Pemilik Hidup. Bila dengan makhluk saja taaruf kita jalani dengan cermat masa dengan Sang Maha Pencipta kita hanya sekedarnya saja.
Kita bisa mentaarufi Allah dengan mengenal ayat-ayatNya, yakni melalui Al-Qur’an, melalui ciptaanNya dan melalui mukjizat yang diberikan kepada para Nabi. Begitu mudah bukan? Kita tak perlu mediator untuk mengenal Allah, tidak perlu mengatur waktu untuk bertemu agar dapat bertatap muka,tidak perlu juga deg-degan karena harus bertemu orang tua si dia. Tinggal baca Al Qur’annya dan pahami terjemahan dan tafsirnya, semua tentangNya tergambar disana. Ingin bertemu, tinggal sholat berdzikir dan berdoa. Tinggal amati saja daun yang jatuh dan renungkan, lalu berikan pertanyaan 5W1H pada fenomena tersebut. Begitu mudahnya. Masya Allah. Allahuakbar.
Namun Terkadang diri ini enggan bergerak, enggan memulai. Merasa belum siap dan belum pantas untuk mengenal Allah lebih jauh. Padahal nikmat yang diterima sudah sebegitu banyaknya hingga tak dapat dihitung. La haulawala quwataillah billah. Kadang kita terlalaikan oleh hal yang tidak perlu. Tersibukkan dengan pekerjaan yang entah untuk siapa ia tujukan. Terhipnotis nikmatnya dunia dan baru menangis tersedu saat tercambuk kerasnya ujian. Barulah Sang Maha Baik ini dicari untuk dikenali lebih dalam.
Semoga kita semua bisa mentaarufi Allah lebih dalam hingga cinta akan berkembang dan abadi bersamaNya disurga menjadi tujuan.
Sekian.